Woensdag 18 Maart 2015

ANALISIS LAHAN MINGGU 4

TUGAS ANALISA LAHAN
Proses Pembentukan Wilayah Bojonegoro
Nama Kelompok:
Fariza F.
Nur Azizah
Astinggara Yahya F
Rini Agustin
Rizka Andhini P
Rizky Dwi Ramadhani

Secara astronomis Kabupaten Bojonegoro terletak diantara 111o 25’- 112o 09’BT dan 6o 59’-7o 37’ LS. Wilayah Kabupaten Bojonegoro dibelah oleh sungai Bengawan Solo dari barat samapi ke timur. Bagian utara merupakan daerah aliran sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian umumnya ditanami padi pada musim penghujan, dan tembakau pada musim kemarau sedangkan dibagian selatan adalah Pegunungan kapur bagian dari Rangkaian Pegunungan Kendeng.  Bagian barat laut (berbatasan dengan Jawa Tengah) adalah bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara Kabupaten Bojonegoro memiliki luas sejumlah 230.706 Ha. Topografi Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo merupakan daerah dataran rendah, sedangkan di bagian Selatan merupakan dataran tinggi disepanjang kawasan Gunung Pandan, Kramat dan Gajah.
Description: 18
Citra Satelit Google Earth Kawasan Wilayah Bojonegoro
Proses Geomorfologi
Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, memiliki enam sataun geomorfologi, yaitu Satuan Punggungan Sinklin, Satuan Dataran Lipatan Terdenudasi, Satuan Perbukitan Lipatan, Satuan Perbukitan Patahan, Satuan Danau, dan Satuan Aluvial.
Description: 19
Citra Satelit Google Earth
Bukit Bojonegoro dengan Satuan Pegunungan Sinklin
Sejarah geologi Kabupaten Bojonegoro dimulai pada Kala Miosen Akhir dengan diendapkannya satuan napal sampai pada Pliosen Awal di lingkungan batial atasneritik luar. Regresi yang terus terjadi di daerah tesebut menghasilkan pengendapan berturut-turut dan selaras batugamping dan batupasir-batulempung.
Description: 20
Citra Satelit Google Earth Bentukan batial atasneritik
Sementara itu di utara, pada Plestosen diendapkan satuan batulempung pada lingkungan litoral. Lalu, tektonik Plio-Plestosen (rezim kompresi utara-selatan) menyebabkan daerah penelitian teranjakkan dan terlipatkan secara intensif sehingga menjadikannya lingkungan darat. Sesar anjakan ini yang menyebabkan posisi satuan batuan Zona Kendeng (secara penampang) berposisi di atas satuan batulempung (Zona Randublatung).
Description: 21
Citra Satelit Google Earth
 Batuan Zona Kendeng (secara penampang) berposisi di atas satuan batulempung (Zona Randublatung).
Proses tektonik kompresi yang terus berjalan, memberikan efek terbentuknya beberapa sesar sobekan (tear fault) yang memotong sesar-sesar dan lipatan-lipatan yang sudah terbentuk sebelumnya.

ANLAN MINGGU 4



TUGAS ANALISA LAHAN
Proses Pembentukan Wilayah Bojonegoro
Nama Kelompok:
Fariza F.
Nur Azizah
Astinggara Yahya F
Rini Agustin
Rizka Andhini P
Rizky Dwi Ramadhani

Secara astronomis Kabupaten Bojonegoro terletak diantara 111o 25’- 112o 09’BT dan 6o 59’-7o 37’ LS. Wilayah Kabupaten Bojonegoro dibelah oleh sungai Bengawan Solo dari barat samapi ke timur. Bagian utara merupakan daerah aliran sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian umumnya ditanami padi pada musim penghujan, dan tembakau pada musim kemarau sedangkan dibagian selatan adalah Pegunungan kapur bagian dari Rangkaian Pegunungan Kendeng.  Bagian barat laut (berbatasan dengan Jawa Tengah) adalah bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara Kabupaten Bojonegoro memiliki luas sejumlah 230.706 Ha. Topografi Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo merupakan daerah dataran rendah, sedangkan di bagian Selatan merupakan dataran tinggi disepanjang kawasan Gunung Pandan, Kramat dan Gajah.
Citra Satelit Google Earth Kawasan Wilayah Bojonegoro
Proses Geomorfologi
Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, memiliki enam sataun geomorfologi, yaitu Satuan Punggungan Sinklin, Satuan Dataran Lipatan Terdenudasi, Satuan Perbukitan Lipatan, Satuan Perbukitan Patahan, Satuan Danau, dan Satuan Aluvial.
Citra Satelit Google Earth
Bukit Bojonegoro dengan Satuan Pegunungan Sinklin
Sejarah geologi Kabupaten Bojonegoro dimulai pada Kala Miosen Akhir dengan diendapkannya satuan napal sampai pada Pliosen Awal di lingkungan batial atasneritik luar. Regresi yang terus terjadi di daerah tesebut menghasilkan pengendapan berturut-turut dan selaras batugamping dan batupasir-batulempung.
Citra Satelit Google Earth Bentukan batial atasneritik
Sementara itu di utara, pada Plestosen diendapkan satuan batulempung pada lingkungan litoral. Lalu, tektonik Plio-Plestosen (rezim kompresi utara-selatan) menyebabkan daerah penelitian teranjakkan dan terlipatkan secara intensif sehingga menjadikannya lingkungan darat. Sesar anjakan ini yang menyebabkan posisi satuan batuan Zona Kendeng (secara penampang) berposisi di atas satuan batulempung (Zona Randublatung).
Citra Satelit Google Earth
 Batuan Zona Kendeng (secara penampang) berposisi di atas satuan batulempung (Zona Randublatung).
Proses tektonik kompresi yang terus berjalan, memberikan efek terbentuknya beberapa sesar sobekan (tear fault) yang memotong sesar-sesar dan lipatan-lipatan yang sudah terbentuk sebelumnya.

Dinsdag 03 Desember 2013

             RESUME JURNAL TEKNOLOGI PUPUK DAN PEMUPUKAN



  






DISUSUN OLEH :


   NAMA                        : Astinggara Yahya F               
NIM                : 125040201111036
KELAS           : D
ASISTEN       : Mbak Rurin



 PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
               FAKULTAS PERTANIAN
            UNIVERSITAS BRAWIJAYA
                MALANG
         2013
BAB I PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG MASALAH
Tanaman selada (  Lactuca sativa,L ), merupakan tanaman sayuran semusim, yang termasuk dalam famili Compositae. Selada sering disajikan sebagai sayuran karena banyak mengandung vitamin, yaitu A,B dan C, tanaman ini juga digemari dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dalam budidaya selada banyak kendala yang harus dihadapi oleh petani, salah satunya adalah masalah persemaian benih. Selada dikembangbiakan dengan bijinya, namun persentase perkecambahan benih selada berkisar antara 40 %  -  75 %. Di lapangan ditemukan bahwa perkecambahan benih selada tidak sampai 50 %. Hasil yang tidak sebanding dengan harga benih, dan biaya pemeliharaan hal ini merupakan masalah yang dihadapi oleh petani selada. Oleh karena itu perlu dicari suatu solusi untuk meningkatkan viabilitas benih selada, agar petani tidak mengalami kerugian dalam proses budidaya selada tersebut.
1.2  TUJUAN
Meningkatkan viabilitas benih selada, dengan cara merendam benih dalam larutan Pupuk Hormon Tanaman Unggul (Hantu), pupuk ini mengandung unsur hara makro dan mikro, juga mengandung zat pengatur tumbuh yang dapat meningkatkan perkecambahan benih.
BAB II METODE
2.1 WAKTU
            02-Februari-2010
2.2 TEMPAT
            Kota Pekanbaru
2.3 PERLAKUAN
Pada perlakuan pertama benih direndam dengan larutan hantu 0.2 % selama 15 menit, kemudian ditiriskan.Perlakuan kedua, benih direndam dengan air murni selama 15 menit, kemudian ditiriskan.
2.4 VARIABEL YANG DIUKUR
1.  Viabilitas benih
Dilakukan pengamatan terhadap jumlah benih yang berkecambah dalam waktu 1 minggu sejak semai.

2.  Kecepatan berkecambah
Kecepatan berkecambah didapat dengan menghitung jumlah kecambah yang muncul dibagi tujuh hari.
3.  Tinggi bibit
Mengukur tinggi bibit yang siap dipindahkan ke lapangan.
4.  Waktu pindah tanam
Menghitung jumlah hari dari saat semai sampai bibit siap pindah tanam
(daun 4 helai).
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 HASIL     
Viabilitas Benih Selada Pada Umur 7 hari setelah semai (%)
T hitung = 3.81; t Tabel 1% = 2.977
Kecepatan berkecambah benih selada (kecambah/hari)
T hitung = 3.67; t Tabel 1% = 2.977
Tinggi  bibit selada pada saat pindah tanam dengan kriterian jumlah daun 4 helai
T hitung = 3.60; t Tabel 1% = 2.977
Lamanya waktu yang digunakan untuk pindah tanam (hari)
T hitung = 3.00; t Tabel 1% = 2.977
3.2 PEMBAHASAN
            Semua hasil penelitian menunjukkan hasil yang sangat berbeda viabilitas benih selada yang direndam menggunakan pupuk hantu lebih tinggi dibanding dengan viabilitas benih yang direndam air murni. Fungsi air dalam perkecambahan ialah sebagai pengaktif enzim amilase.
BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
            Pupuk Hantu dapat menstimulir perkecambahan benih selada, kecepatan perkecambahan benih selada dengan menggunakan pupuk hantu lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan air murni, tinggi bibit selada lebih tinggi

bila menggunakan pupuk hantu dibandingkan dengan menggunakan air murni, waktu pindah tanam bibit selada lebih cepat dengan menggunakan pupuk hantu dibandingkan dengan menggunakan air murni

Donderdag 09 Mei 2013

Terkadang seseorang yang kamu anggap tidak penting bagimu, dia akan lebih memikirkan tentang drimu dan bermanfaat bagi kehidupanmu.
Sebaliknya mereka yang selalu ada di benakmu, akan sering membuatmu menangis atau bersedih dari pada membuatmu senang atau tersenyum.
Dan mereka yang seperti itu tak akan berguna bagi kehidupanmu,,,

#astinggara

Dinsdag 23 April 2013

unitantri


kisi kisi UAP DPT 2012



KISI-KISI DPT
A. URAIAN SINGKAT
1.    Sebutkan 2 contoh gejala nekrotik
2.    Gambar di Bawah adalah gejala yang ditimbulkan oleh
Description: http://www.agroatlas.ru/content/diseases/Cucurbitae/Cucurbitae_Xanthomonas_campestris_pv_cucurbitae/Cucurbitae_Xanthomonas_campestris_pv_cucurbitae.jpg
5. G,WP,D dan SP pada materi pestisida adalah singkatan dari
6. Apa yang dimaksud dengan 400 AS pada materi takaran pestisida
7. Jamur putih  yang berfungsi sebagai musuh alami  pada hama wereng  dan kutu daun disebut
8. Sebutkan 3 jenis organisme yang di dapatkan pada praktikum pengendalian dengan faktor Edafik tanah konvensional
9. Tuliskan Persaman yang digunakan untuk menyiapkan larutan atau suspensi pestisida wattable powder
10. Sebutkan tipe mulut pada hama dari golongan acarina
11. Berdasarkan pengamatan di Sumber Ngepoh, maka ditemukan populasi laba-laba lebih banyak dibandingkan populasi wereng.  Apa peranan laba-laba terhadap agroekosistem tersebut....
12. Apakah ordo pada hama ini?
13. Hidrosis, klorosis, layu, gosong, mati pucuk, busuk, rebah semai, kanker dan pendarahan merupakan Gejala spesifik dari gejala-gejala...
14. Scirpophaga innotata adalah hama penting pada tanaman……
15. Contoh gejala hiperplastis adalah ……
16. Nama yang tertera pada label produk pestisida yang menunjukkan bahan aktif dari suatu jenis formulasi pestisida disebut ....
17. Arisida, avisida, dan rodentisida adalah pestisida yang ditujukan untuk  mengendalikan, menolak, memikat bahkan membasmi organisme pengganggu tanaman yang berupa (jawab secara berurutan!)
18. Tipe mulut dari Bekicot/siput adalah...
19. Penggunaan Pestisida yang tidak Bijiaksana akan mengakibatkan Hama menjadi resisten dan setelah itu hama tersebut akan menjadi Resurjensi apa yang di maksut Resurjensi ...
20. Pestisida yang di buat dari ekstrak tanaman di sebut?
21. Apa hama pada tanaman padi (nama umum dan nama ilmiah)
22. Sebutkan jenis-jenis dari parasitoid
24. Parasit yang mampu menimbulkan penyakit pada inangnya adalah
25. Tulis rumus kebutuhan produk/satuan volume semprot
26. Ketahanan yang dikendalikan oleh banyak gen dan biasanya mudah dipatahkan disebut….
27. Mengapa ketika praktikum edafik perlu dibiarkan selama 24 jam?
28. Banyaknya larutan pestisida yang keluar dari mulut nosel slama 1 menit disebut dengan…
29. Sebutkan spesimen yang anda bawa dalam praktikum pengenalan Hama dan Gejala dari Ordo lepidoptera…..
30. Tuliskan Persaman yang digunakan untuk menyiapkan larutan atau suspensi pestisida wattable powder…….

B. URAIAN PANJANG
1. Jelaskan cara kerja praktikum pengenalan pengendalian melalui pengelolaan faktor edafik!
2. Untuk penyemprotan hama penghisap bunga lada, diperlukan 1000 liter larutan yang  bmengandung 0,14% b.a insektisida Sevidan 70 WP. Berapa banyak Sevidan diperlukaN
3. Apakah tujuan dari PHT?
4. Sebut dan jelaskan perbedaan Belalang dan tungau
5. Sebutkan kekurangan dan kelebihan dari penggunaan varietas tahan !(masing-masing min 3 )
6. Jelaskan Apa yang di maksud kalibrasi Metode Waktu dan Klibrasi dengan metode luasan..?
7. Jelaskan mengenai segitiga penyakit…
8. Isilah klasifikasi spesimen di berikut!
  Kingdom          :
  Filum                :
  Kelas               :
  Ordo                :
  Famili               :
  Genus               :
  Spesies             :
9. Sebut dan jelaskan fungsi dari masing-masing alat dan bahan pada saat melakukan Praktikum “Pengenalan Pengendalian dengan Menggunakan Pestisida
10. Jelaskan perbedaan gejala dan tanda
11. Sebutkan serangga hama yang anda ketahui beserta gejala/tanda yang ditimbulkan (Sebutkan 5)
12. Sebutkan perbedaan  gejala penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri, dan virus masing-masing minimal 3 gejala!
13. Sebutkan minimal 3 spesimen yang dibawa ketika praktikum materi pengenalan gejala penyakit dan pengenalan patogen beserta nama ilmiahnya!













1. Hama
a. Definisi hama
b. Perbedaan gejala dan tanda
c. Ordo
d. Tipe mulut serangga
e. Metamorfosis